Archive for October, 2005

Gandeng.Peluk.Cium. Serius khan?

Tuesday, October 25th, 2005

Gandeng.Peluk.Cium. Serius khan? (Original Copy in blogspot.com by me!)

Seringnya aku ketawa kecil, senyum dikit dan perasaan jadi super-melakonlis abis! klo flash back ke masa2 dulu.
Masa2 jaman masik SMA, dengan catetan relationship history cuman dengan 1 x-bf, tapi sbenernya punya lebih dr 1 cowok2 yg hadir dalam hidup saat itu.

Dulu sih, aku masih punya pola pikir yg (mungkin) polos dan belum terkontaminasi sama apapun. Jadi, saat2 itu pemikiran nya masih sederhana dan blom serumit sekarang.
Dan… pastinya saat itu pemikiran ttg pacaran, cinta dan kawin/nikah -nya lbh sederhana dan tidak diembel2in sama yg lain2.
Rumusan nya masih yg ala SMA banget. hehe.
Beginilah pemikiran(ku) waktu itu:
Aku diajak kenalan sama cowok, aku diajak pacaran dan aku mau. Akhirnya aku punya pacar! Seminggu pacaran masih malu2, tapi udah gandengan tangan. Yak, berarti tahap 1 udah terlewati dengan baik dan lancar.
Sebulan pacaran aku sudah tahu apa rasanya digandeng cowok ke mana2.
Lalu aku dipeluk mesra ama pacar-ku. Nah, tahap ke 2 udah lewat juga.
Abis itu apa?
Seru2-nya pacaran kali paling seru pas deg2 an nya ndak karuan pas dicium pacar!
Pertama, pipi/dahi. Baru, bibir. Ini! Yang dibilang puncak ke-serius-an nya anak SMA! haha.
Kalo udah dicium bibir-nya udah di-cap punya pacar seorang! Tentu dengan bumbu klo sudah berani bilang, aku cinta kamu! dengan setulus hati. haha.

Tapi dasar emang, kenangan ciuman pertama cuman asik buat dikenang2 bukan buat diulang2 trus, jadi…
Aku mulai berubah haluan dan pemikiran saat pacaran masa SMA habis dikalah-kan sama yg namanya tuntutan masa depan kuliah di negeri seberang sedangkan pacar tersayang di negeri sendiri.

Sekarang, umur udah 17+3 thn sejak pacaran masa SMA itu.
Rumusan tentang pacaran/cinta/kawin/nikah- beda berubah meski mungkin masik ada kemiripan di sana sini.
Dulu, digandeng ama cowok cuman boleh ama pacar. lalu aku dipertemukan ama konsep,
"apa kalo gandengan harus pacaran?" makanya akhirnya jd gandengan bukan lagi hal yg tll istimewa. Lagian, mending digandeng temen cowok saat nyebrang jalan yg rame drpd ditabrak mobil, khan? hehe.
Dulu, dipeluk cuman ama pacar.(mungkin ini efek dr budaya juga, yg tidak mengharuskan km peluk2an saat ketemu2 teman!)
Nah saat di sini, aku peluk2 bisa ama siapa aja. sama temen kuliah. temen kerja.(tp klo ini memang konsepnya jelas beda. karena itu pelukan-ku masik terbatas pada temen2 cewek saja!)
Dulu, ciuman artinya serius pacaran dan (kayak-nya bakal pasti kawin/nikah!)
Nah! sekarang? yah, agak2 nya sudah nggak begitu2 amat!

Aku mulai memikirkan konsep yg lebih ’serius’ dan mungkin lebih realistis/pragmatis.
1. Punya cowok mending yg lebih tua, walaupun nggak jamin lbh dewasa tp setidaknya ntar klo udah tuaan ndak usah tll pusing buat awet muda karena takut suaminya lari. haha.
2. Punya cowok yg yakin udah punya kerjaan mantep ato setidaknya yg mampu support household. karena nikah dan punya anak tidak cuman makan cinta!
3. Cari cowok dengan mamapapa yg cukup menyenangkan untuk bisa dijadikan mamapapa-ku juga. karena punya mertua bukan cuman status. tp mertua adalah hal yg termasuk dlm pernikahan! Pilih mana? disayang mertua sampe selamanya ato berantem dan makan ati melulu? hehe. Pilih calon suami berdasarkan mamapapa-nya penting juga, kali! hehe.
4. Mungkin, konsep terakhir emang agak tabu dan aneh. tapi aku lbh mau mendedikasikan 6 bln-1thn dr kehidupanku saat ini untuk tinggal bareng calon suami yg terpilih untuk memastikan bahwa aku akan bisa selamanya bersama dia.
Mending2 setelah itu tau jelek-baek nya daripada udah terlanjur nikah! mau maju mundur mentok! Cerai? Uhm, Tuhan khan nggak suka tuh? Meski memang bisa. Yah khan?

Jadi… Konsep yg Gandeng.Peluk.Cium=Serius Nikah ala SMA itu, udah diperbarui.

Gandeng.Peluk.Cium.Cinta.CalonMertua.Materi.danLain2=Serius mau Nikah?

RealityCheck and mom.

Tuesday, October 18th, 2005

I guess that’s true, u won’t really know how to thank ur mom enough. In the past, I think I didn’t thank my mom enough. Even today, I don’t think I thank her enough. I came to this conclusion when just a moment ago I realised, how lucky I am in life to have a mom like my mom.

I think I have said these so many times, but yah I have to say that this reality-check, struck me like in a split seconds. It felt like… ehm… Zapt…and Gone…wush! Me, at the age of 20, finishing a full-degree, yet still unemployeed.

And there’s mom. Again, I would probably said this million times, that I’m just not ready to be ‘just a cake-shop owner’ for my mom’s. But, then just like another Zapt… I realised!

I’m lucky! When people are so confuse about job.employeement.carrers.seeking through gazzillions of ads.sending gazzillions of resumes. Me? Oh well, looking at the other side of the story instead of just saying, I’m gonna be ‘just a cake-shop owner’ I don’t really have to gone trough that gazzillions things! Thanks to who? Again, mom.

I believe in the miracles of life, I believe in dreams and I Have my own dreams! so don’t u think I’m not that ambitious.

I am. But, I believe more that I can do the things that’s there. A responsibility of my life as a daughter to her mom. I believe that whatever I do in life later on, I have to be graceful. My key to happiness is to be happy with what u’re, with what u’re doing and believing in God’s plan all the the way.

For now, I thank mom for being there.always.my safety net when I fall.

Luv u mom.

NeverEndingJourney called Life.

Saturday, October 15th, 2005

It felt like just yesterday, 23 rd June 2003.TheDay I left Surabaya for Melbourne.TheDay when I thought I made the biggest mistake in life.But now I can truly say, it was not a mistake. It was TheDay when my NeverEndingJourney aka Life as me, Renny began.

It felt like just yesterday, when I got into UNI, juggling around struggling w/ essays!

Never thought the day would finally come.

The day when I attended the class,the lecture, the exam for the very last time in whole life as a UNI student.

People asked me, how does it feel? Are u happy? or even they said, u’re lucky!

Hmmm… it’s been 2 days now.

And Yes, finally the Fact that I don’t have to come to UNI anymore finally sinking in. *My housemate said, "maybe it hasn’t sinking in yet." when I told her I didn’t feel anything at that day.* And Yes, I’m Sad it’s over. *After 2 days* haha :p Yet, I believe in the Miracles of Life! Awaits for the next destination of the NeverEndingJourney called Life!

Cerita si pemimpi & si pemberani.

Thursday, October 6th, 2005

Ketika aku berani bermimpi, aku berani menghadapi kenyataan.

Ketika aku berani membuat pilihan, aku berani dan siap dengan segala konsekuensi.

Sungguh telah berani kah aku?

Dengarkanlah cerita-ku dan kamu mungkin akan mengerti kenapa aku telah menjadi si pemberani…

Aku, dulu hanyalah si pemimpi dengan banyak impian dan angan-angan.

Aku tak pernah tahu sebelum nya bahwa hidup bukan hanya tentang impian dan angan-angan. Haha :) Betapa bodohnya aku!

Lalu hidup-ku jadi sedikit demi sedikit berubah saat aku salah satu impian-ku dikabulkan. *Meski kini ku sadari, impian ini bukan dikabulkan tapi lebih dipaksa-kan sehingga menjadi impian yg dikabulkan.*

Impian yg mana-kah itu?

Impian yg ini, teman. Impian bahwa aku pernah berharap aku bisa pergi berpetualang dan belajar jauh di negeri ini. Di negeri terasing.

Senang kah aku saat impian ini terkabulkan?

Ku jawab pertanyaan ini 2 kali jika boleh…

1. Senang sekali sehingga aku tetap berani terus bermimpi. Karena aku yakin bahwa impian-impian ku akan bisa terkabul satu demi satu. Aku, si pemberani dengan banyak impian!

Aku telah belajar banyak saat impian ini terkabulkan, aku tidak pernah menyesali impian ini terkabulkan. Tapi, andai jika bisa…

2. Ku tak ingin lagi punya mimpi ini.

Kenapa? Ternyata meskipun aku telah punya begitu banyak pengalaman dari impian ini, aku ternyata… lebih banyak kehilangan.

Kehilangan begitu banyak hal… sampai-sampai aku mulai mempertanyakan, “begitu indah-nya impian ini hingga aku harus kehilangan begitu banyak hal untuk membuat nya nyata?”

Aku, si pemberani tanpa impian lagi.

Ternyata, impian ini telah mengajarkan aku untuk menyadari bahwa akan akan banyak konsekuensi di balik pilihan yang dibuat.

Impian ini menyadarkan aku bahwa dalam hidup aku tak bisa memiliki semua yg aku mau.

Jadi, siapa aku sekarang? Si pemberani?

Aku tak yakin pasti. Yang aku tahu, si pemimpi ini telah belajar jadi si pemberani yang tahu saat ia bermimpi, ia harus siap bangun dengan kenyataan yg berbeda.

Belajar dari impian, hadapi kenyataan. Jadilah pemberani.